Les pelajaran sesuatu yang seringkali kita temui yang mungkin berbeda dibandingkan jaman pendidikan jaman dahulu yang jarang ada les pelajaran. Dalam hal ini, penulis sebagai pribadi yang sudah lama terjun dalam dunia ini tertarik untuk menuliskan pengalamannya. Les pelajaran yang akan saya singgung bukan hanya les privat namun juga termasuk les secara klasikal ataupun yang menggunakan metode-metode tertentu. Les pelajaran merupakan sebagai hal yang dicari-cari oleh orang tua untuk membantu anaknya dalam akademik.
Les pelajaran sangat bermanfaat untuk membantu siswa menemukan trik-trik belajar, dan dapat memberikan waktu belajar lebih lagi saat dipandang waktu belajar di sekolah kurang ataupun saat orang tua kurang mampu mengenai suatu bidang pelajaran (seperti : pelajaran bahasa, hitungan). Pada dasarnya les pelajaran merupakan stimulus eksternal (di luar diri siswa) untuk merangsang, memotivasi, membimbing siswa dalam proses belajar akademik, namun tidak dapat dipungkiri ada beberapa pandangan yang keliru pada orang tua tentang les pelajaran, antara lain :
1.Les pelajaran bukanlah “dukun”, ataupun “sulap” yang mampu mengubah siswa dalam SEKEJAP menjadi hebat dalam akademik. Banyak orang tua berpikir ketika anaknya mengikuti les, maka akan terjadi perubahan INSTAN terutama dalam nilai akademik. Orang tua melupakan bahwa les hanyalah stimulus dari luar dan mungkin hanya dilakukan hanya selama beberapa jam dalam seminggu.
2.Les pelajaran bukanlah berarti melepas tanggungjawab sebagai orang tua untuk mengontrol, membimbing, mengawasi, dan membantu anaknya dalam proses belajar akademik. Banyak orang tua yang menjadi salah kaprah dengan melimpahkan tanggungjawab sepenuhnya proses belajar akademik informal kepada les pelajaran. Ketika hal ini terjadi, umumnya orang tua akan meng”kambing hitam”kan les pelajaran. Perlu dipahami bahwa perlu ada KERJASAMA antara les pelajaran dengan orang tua, dimana pola asuh orang tua, dan tindakan orang tua dalam membantu anaknya belajar berperan serta dalam keberhasilan akademik. Tidak sedikit orang tua lebih mudah untuk terpikir mencari les pelajaran yang dapat menghasilkan dampak pada nilai secara INSTAN dan melupakan ANDILnya sebagai orang tua.
3.Les pelajaran bukan sesuatu KEHARUSAN. Seringkali orang tua mengikuti anaknya dalam les pelajaran sebagai bentuk “gengsi”, maksudnya adalah karena tidak mau kalah dengan orang tua lainnya maka berbondong-bondong mendaftar pada tempat kursus yang terkenal padahal mungkin saja menyiksa anaknya. Dapat juga karena orang tua berpikir prestasi anaknya akan membuat “harga diri” meningkat maka orang tua menekan sedemikian rupa anaknya untuk mengikuti berbagai kursus. Hal yang seringkali saya temui adalah banyak siswa yang sesungguhnya mereka mampu BELAJAR SENDIRI tanpa les namun mereka hanya membutuhkan TEMAN BELAJAR. Banyak siswa hanya membutuhkan kedisiplinan waktu belajar, dan tidak sedikit mereka hanya membutuhkan rasa percaya diri dalam belajar. Sebuah pertanyaan untuk kita, bukankah TEMAN bealajar, KEDISIPLINAN waktu, rasa PERCAYA DIRI dapat diberikan oleh fungsi sebuah keluarga?.
Selain itu ada beberapa yang perlu dipahami oleh remaja mengenai les atau kursus :
1.Waktu les bukanlah sebagai pengganti waktu belajarmu, sehingga janganlah berpikir “karena saya sudah les, maka saya tidak perlu belajar lagi”.
2.Waktu les bukanlah untuk mengerjakan PR kecuali memang ada kesulitan dan jangalah pernah berpikir untuk meminta gurumu untuk mengerjakan PRmu.
3.Janganlah dirimu ketergantungan dengan les. Begitu sering saya menemukan banyak siswa yang les dari SD hingga masuk ke perguruan tinggi tetap mengikuti les. Cobalah belajar mandiri dan percaya bahwa dengan berlatih kamu akan semakin mampu. Tahukah begitu banyak yang dijelaskan gurumu ada dalam buku cetakmu? Oleh karena itu, dengan secara mandiri jika kamu rajin membaca buku maka kamu akan meningkatkan kemampuanmu.
Begitu banyak les ataupun kursus yang menawarkan hasil secara INSTAN namun yang perlu kita sadari BELAJAR merupakan sebuah PROSES dan membutuhkan peran serta orang tua dan individu itu sendiri. Proses belajar haruslah meningkatkan KEMANDIRIAN bukan ketegantungan dengan unsur eksternal.
Kemandirian adalah melatih siswa untuk menjalankan proses belajar walau tidak ada unsur eksternal yang mendukung. Les sangat bermanfaat ketika diperlukan dengan pelaksanaan yang baik dan tepat, namun akan berbahaya kala berlebihan dan pelaksanaan yang tidak tepat.
Sabtu, 17 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar