Sabtu, 17 Juli 2010

HINDARKAN BULLYING DARI LINGKUNGAN ANAK ANDA

Bullying mungkin sudah sering terdengar, namun hal ini perlu dipahami agar setiap kita semakin menyadari dampak dari bullying. Bullying merupakan tindakan individu yang menyakiti, merugikan individu lainnya. Pada umumnya individu yang menjadi pelaku adalah individu yang lebih kuat, dan berkuasa dibandingkan individu yang menjadi korban, selain itu pelaku bullying dapat berupa kelompok (Carlisle & Rofes, 2007). Morita (dikutip oleh Carlisle & Rofes, 2007) menguraikan perilaku bullying adalah perilaku agresif yang diarahkan kepada korban secara berulang kali sehingga korban tidak mampu mempertahankan keberadaannya secara efektif.
Perilaku tersebut memiliki kesatuan tema yaitu agresi, dimana yang termasuk kategori utamanya adalah agresi lisan (ancaman, mengejek, menggoda, intimidasi, menghina, dan menertawakan), agresi fisik (pemukulan, mendorong, tendangan, jepitan, pengekangan fisik, dan penganiayaan seksual), dan agresi relasi ( penyebaran desas-desus atau gosip, pengeluaran sosial, dan pengasingan dari pergaulan).
Bullying UK (2008) menuliskan perbuatan yang dapat digolongkan sebagai bullying, yaitu nama atau panggilan julukan, gangguan-gangguan, pemukulan, menjepit, mendorong, perampasan barang, pencurian, perusakan barang, pengiriman pesan yang menghina melalui media elektronik, penyebaran fitnah, perkataan kutukan, telepon teror, dan menakut-nakuti. Carlisle dan Rofes (2007) menyatakan bahwa dampak dari perilaku bullying pada korban memiliki jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek yang dapat dialami oleh korban adalah rendahnya konsep diri, gejala-gejala kejiwaan, kekuatan fisik yang melemah, dan bunuh diri baik hanya keinginan maupun melakukannya. Berdasarkan riset dampak yang terjadi dapat dirasakan hingga tahap perkembangan dewasa, seperti dampak yang dialami oleh anak yang disakiti orang tua ataupun memiliki orang tua yang bercerai. Olweus ( dikutip oleh Carlisle & Rofes, 2007) menyatakan bahwa korban bullying ketika berada di tahap perkembangan dewasa akan berada dalam tekanan yang lebih tinggi ataupun memiliki harga diri yang rendah. Selain itu juga Carlisle dan Rofes (2007) dalam tulisannya memaparkan penelitian-penelitian yang menunjukkan dampak jangka panjang pada korban bullying.
Dampak tersebut berupa anak laki yang menjadi kewanitaan, rendah diri, frustasi, tidak pernah menikah, agresif, paranoia, menarik diri dari sosial, menjadi waria, keadaan tertekan, dan mengalami gangguan dalam bicara yaitu gagap. Selain itu didapati juga bahwa korban mengalami ketidaktertarikan dalam bergaul, emosional, dan neurotik. Selain itu dampak jangka panjang yang terjadi bagi para pelaku bullying adalah mengalami kesulitan memelihara hubungan, menjadi pelaku bullying di kampus ataupun di kantor, menikmati rasa ketika melakukan bully, memiliki harga diri dibawah rata-rata, dan mengalami kesulitan mempercayai orang lain maupun adanya ketakutan akan suasana baru.
Pelaku ataupun korban bullying pada tempat kerja ataupun universitas diketahui mempunyai riwayat bullying juga pada masa sekolah. Individu yang mempunyai riwayat bullying pada masa sekolah cenderung dapat menjadi korban ataupun pelaku di masa akan datang. Oleh karena itu, permasalahan bullying pada masa sekolah perlu mendapat perhatian. Permasalahan dalam mewaspadai tindakan bullying adalah banyak orang tua yang merasa bangga ketika anaknya ditakuti ataupun populer karena sering melakukan bullying pada teman bahkan saudaranya yang mungkin saja disebabkan orang tua tidak mengerti mengenai bullying. Selain itu ada juga orang tua yang kurang peka bahwa anaknya sedang mengalami tindakan bullying atau menganggap bullying yang dialami anaknya merupakan sesuatu yang wajar.
Keadaan lainnya dalam permasalahan bullying adalah guru, orang tua atau figur anak-anak memberikan contoh dalam menampilkan tindakan bullying sehingga anak-anak menganggap hal tersebut wajar untuk dilakukan. Apabila guru sudah mulai menjuluki sorang siswa ataupun menghina, meremehkan, mengintimidasi maka teman-teman siswa tersebut berpotensi mengikuti tindakan guru tersebut. Apabila orang tua memberi contoh dengan memberikan julukan, meremehkan seorang guru atau orang lain maka akan berpotensi juga untuk diikuti anak. Pada kenyataanya saya melihat anak-anak sekolah dapat menjadi pelaku bullying bagi guru sehingga menyebabkan guru stres, menangis. Anak-anak tersebut melakukannya dapat saja karena mencontoh dari orang lain, ada kuasa (merasa mempunyai orang tua yang berkuasa), konformitas (ikut-ikutan temanya). Hal yang perlu diyakini adalah anak-anak telah melihat tindakan bullying sebagai tindakan yang wajar untuk dilakukan dan untuk menjadi pelaku bullying hanya menunggu momentum anak tersebut merasa menjadi pihak yang lebih kuat, berkuasa dari yang lainya.
Hal yang dapat kita lakukan adalah menjadi orang tua yang peka apakah anaknya menjadi pelaku ataupun korban bullying dengan cara mengetahui apa sajakah yang dapat digolongkan sebagai tindakan bullying. Selain itu, figur otoritas baik orang tua ataupun guru marilah kita memberikan contoh dengan menghentikan tindakan bullying serta peka akan tindakan bullying di sekitar kita. Figur otoritas dapat juga mulai memberikan pemahaman pada anak-anak mengenai bullying dengan dampaknya serta memberikan rasa aman kepada anak agar anak tersebut ketika mengalami tindakan bullying berani dan mengetahui untuk datang bercerita pada figur otoritas yang ada. Bullying yang dialami anak dalam lingkungannya dapat terjadi diluar kendali kita karena kita tidak mampu mengawasi secara terus-menerus setiap saat.
Oleh karena itu, cara terbaik yang dapat dilakukan adalah membangun mental anak agar dapat menghadapi bullying apabila suatu waktu mengalaminya serta membangun sikap anak agar tidak menjadi pelaku bullying. Keluarga yang memegang peran utama dengan menciptakan kewaspadaan akan bullying, dalam membangun mental anak. Keluarga harus menyadari dampak-dampak yang terjadi dari bullying, dan keluarga harus menjadi tempat yang nyaman sehingga anak mengetahui dapat menceritakan apa yang dialaminya termasuk apabila bullying kepada keluarga. Keluarga sebagai pertahanan anak dari perilaku bullying merupakan hal yang harus kita lakukan.

1 komentar:

  1. terimakasih atas infonya. posting ini menginspirasi saya untuk membuat karya tulis bertemakan bullying, karena sepertinya mengenai hal ini belum banyak masyarakat yang mengetahuinya.

    BalasHapus